Kamis, 18 Februari 2010

Migrain Diagnosis dan tatalaksana

Migraine merupakan keluhan utama yang sering dikeluhkan pasien kepada dokter. Lebih dari 90% populasi secara acak di dunia pernah mengalami serangan migraine pada suatu waktu dalam masa hidupnya. Namun hanya sekitar 10% yang mencari pengobatan. Migraine dikeluhkan pasien sebagai sakit kepada yang umumnya dirasakan sesisi, biasanya disertai gejala penyerta seperti fotofobia (hipersensitif terhadap cahaya), fonofobia (hipersensitif terhadap suara/bunyi), dan gejala-gejala  seperti mual, muntah, berkeringat dingin.
Kata "migraine" merupakan bahasa Perancis, yang berasal dari bahasa Yunani "hemicranium" yang berarti sakit kepala sesisi. Migraine merupakan penyakit kronik yang tersebar dalam populasi dengan berbagai variasi berdasar sifat serangannya yaitu intensitas, frekuensi, durasi, faktor-faktor pemicu, faktor internal maupun eksternal. Migraine secara statistik, lebih banyak dialami wanita, terutama pada usia produktif, dibandingkan pada pria. Faktor-faktor pemicu bisa berupa stress emosional, alkohol, makanan, cuaca atau pada wanita sering terjadi saat siklus haid.
Tatalaksana migraine berfokus pada pencegahan faktor pemicu, mengontrol gejala dan obat  untuk mencegah serangan berulang. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup individu tersebut.

Definisi
Migraine adalah sakit/nyeri kepala umumnya bersifat unilateral (sebelah kepala ) berulang dapat disertai gejala penyerta seperti mual, muntah, gangguan mood/emosional dan diduga terkait genetik.

Epidemiologi
Pada pubertas sampai dewasa insiden migraine lebih banyak pada wanita.2
Prevalensi migraine tertinggi pada kelompok umur 25-55 tahun (usia produktif), memuncak menjelang awal 30-40 tahun dan menurun menjelang usia 50 tahun.
Berdasarkan status sosial ekonomi, di AS, dilaporkan prevalensi migraine berkaitan dengan pendapatan rumah tangga dan tingkat pendidikan, dimana pada pendapatan dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi prevalensi migraine cenderung lebih rendah.
Dampak sosial migraine diukur dalam skala ekonomi, yang secara langsung yaitu besarnya biaya pelayanan kesehatan, sedangkan dampak tidak langsung diukur dari hari tidak masuk kerja dan tingkat produktifitas. Dampak individual diukur dari frekuensi dan beratnya serangan. Kualitas hidup terkait kesehatan pada penderita migraine lebih rendah daripada orang yang tidak menderita migraine.

Mekanisme yang mendasari migraine merupakan kelainan fungsional yang bersifat kompleks yang mencakup fungsi saraf, pembuluh darah, hormonal dan zat-zat kimia di otak. Menurut teori vaskular ditemukan adanya penyempitan dan pelebaran sesaat pembuluh darah dan adanya peranan zat kimia /neurotransmiter yang disebut serotonin
Salah satu aspek terpenting dalam patofisiologi migraine adalah kelainan yang terkait genetik dimana penelitian pada kembar dan sejumlah populasi secara familial menunjukan relasi yang kuat bahwa migraine, terutama tanpa aura, merupakan kelainan multifaktor yang disebabkan kombinasi genetik dan faktor eksternal. Migraine yang bersifat familial ini terkait dengan kromosom 19P13.

Faktor-faktor pemicu yang menimbulkan migraine: faktor perilaku, lingkungan, infeksi, makanan, kimia, atau hormonal. Teori faktor pemicu menyatakan bahwa pemaparan terhadap berbagai faktor lingkungan beresiko terjadinya serangan migraine secara individu.
Banyak laporan yang menunjukan bahwa satu atau lebih faktor-faktor tersebut memicu terjadinya migraine. Yang paling sering yaitu stress, alkohol, makanan, tidur yang berlebihan atau kurang, cuaca, dan kelebihan iluminasi atau cahaya yang menyilau. Beberapa wanita mengalami migraine sesuai dengan siklus bulanan. Tetapi kadang-kadang serangan terjadi tanpa penyebab yang nyata.
Serangan migraine dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu: pertama, fase premonitorik, yang terjadi selama beberapa jam-hari sebelum serangan nyeri kepala. Kedua, fase aura, yang segera mendahului serangan nyeri kepala. Fase ketiga yaitu nyeri kepala itu sendiri (headache), dan terakhir keempat, fase postdromal.

Fase Premonitorik
Fenomena premonitorik terjadi beberapa jam-hari sebelum onset nyeri kepala, hal ini terjadi pada kurang lebih 60% penderita migraine dan bisa berupa psikologik, neurologik, atau gejala-gejala umum (konstitusional, autonom). Gejala-gejala psikologik berupa depresi, euforia, iritabel, gelisah, lemah mental, hiperaktifitas, kelelahan, dan mengantuk. Gejala-gejala neurologik berupa fotofobia, fonofobia, dan hiperosmia. Gejala-gejala umum berupa kaku leher, perasaan dingin, malas, rasa haus meningkat, urin meningkat, anoreksia, diare, konstipasi, dan retensi cairan.
Pada kejadian migraine sering ditemukan adanya Aura. Aura ini  terdiri dari fenomena neurologik  yang mendahului atau menyertai serangan. Sebagian besar aura berkembang selama 5-20 menit dan biasanya berakhir kurang dari 60 menit. Aura dapat berupa visual, sensorik, atau fenomena motorik dan dapat juga gangguan berbahasa atau gangguan batang otak. Apabila hal ini terjadi, biasanya sakit kepala dimulai dalam 60 menit dari berakhirnya aura tersebut. Pada suatu penelitian prospektif, sakit kepala yang disertai aura hanya terjadi 80% .

Nyeri kepala pada migraine khasnya unilateral, berdenyut, sedang hingga berat, dan dicetuskan oleh aktifitas fisik rutin. Nyeri kepala dapat terjadi kapanpun baik siang atau malam tetapi lebih sering pada pagi hari. Onsetnya biasanya bertahap, nyeri memuncak lalu kemudian berkurang dan berakhir kurang dari 24 jam, dengan batasan 4-72 jam pada dewasa dan 2-48 jam pada anak-anak. Nyeri kepala bilateral sebanyak 40% dan unilateral 60%; terjadi secara menetap pada sisi yang sama pada 20% pasien. Nyeri kepala pada migraine sangat bervariasi intensitasnya, mulai dari mengganggu saja hingga tidak mampu melakukan aktifitas, meskipun sebagian besar penderita melaporkan nyeri yang sedang.
Setelah nyeri kepala, penderita dapat kehilangan konsentrasi atau merasa lelah, malas dan iritabel. Jarang orang merasakan kesegaran yang tidak biasa atau euforia setelah serangan.

Diagnosis migraine dapat dibuat berdasarkan riwayat dan pemeriksaan. Pada umumnya pemeriksaan neurodiagnostik tidak diindikasikan. Tetapi pada riwayatnya, dapat ditemukan gambaran migraine awal yang meliputi nyeri kepala unilateral, adanya aura peringatan (sering visual) dan mual atau muntah.
Menurut Headache Classification Subcommittee, 2004, menyatakan diagnosis migraine diketahui dengan mengamati adanya serangan berulang nyeri kepala, dengan intensitas, frekuensi dan durasi yang sangat bervariasi, onset serangan biasanya unilateral yang disertai anoreksia dan kadang-kadang mual dan muntah; beberapa didahului atau berkaitan dengan gangguan mood, sensorik dan motorik yang nyata; dan sering familial/keturunan, disertai kriteria tambahan yaitu fotofobia dan fonofobia dengan durasi 4-72 jam.
Pada tahun 1988 International Headache Society (IHS) membagi nyeri kepala migraine menjadi 2 jenis: migraine dengan aura (Classic Migraine) dan migraine tanpa aura (Common Migraine). Seorang pasien dapat menderita migraine tanpa aura, migraine dengan aura, dan aura saja tanpa adanya nyeri kepala.

Penatalaksanaan Migraine
Pengobatan Non-Farmakologik
Migraine dapat ditangani dengan beberapa pendekatan non-farmakologik. Dengan identifikasi dan mencegah faktor-faktor pemicu seperti: alkohol (contoh: anggur merah), makanan (misalnya coklat, keju, MSG, makanan yang mengandung nitrat), kelaparan, pola tidur yang tidak teratur, bau-bauan organik (seperti parfum), tekanan kerja, perubahan akut pada stress, dan lain-lain. Mengusahakan pengaturan lingkungan seperti perbedaan waktu, ketinggian, perubahan tekanan barometrik, dan perubahan cuaca. Menilai siklus menstrual yang berkaitan dengan faktor hormonal.

Pengobatan Farmakologik Non-Spesifik
Secara keseluruhan, penatalaksanaan migraine akut dengan pengobatan non-spesifik berfungsi sebagai terapi simtomatis. Banyak pasien yang membaik dengan pemberian aspirin atau parasetamol. Pada Migren yang dicetuskan oleh menstruasi dapat diberikan obat-obatan tersebut 2 hari sebelum mens sebagai pencegahan. Golongan Triptan dan ergot merupakan obat pilihan pada migrain. Namun penggunaan obat migrain golongan ini harus hati-hati karena dapat menyempitkan pembuluh darah sesaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar